Monday, September 23, 2019

BJ Habibie Pernah Tergelitik Lihat Permainan Sepak Bola

BJ Habibie Pernah Tergelitik Lihat Permainan Sepak Bola BJ Habibie pernah tergelitik lihat permainan sepak bola. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mendiang BJ Habibie pernah mengungkapkan tidak terlalu menguasai dan mengikuti perkembangan sepak bola.

Saat wawancara dengan CNNIndonesia.com di kediamannya di Kuningan pada April 2016, Habibie mengakui sepak bola bukan merupakan olahraga yang begitu dia gandrungi.

artis bisa promiin barang kamu lohh!!! langsung aja cek di an influencer marketing company
Habibie bahkan tak malu-malu mengakui cukup tergelitik melihat satu bola harus diperebutkan 22 pemain di atas lapangan.


"Jika semuanya terserah saya, ya saya kasih saja bola ke setiap pemain daripada semua pemain saling rebutan satu bola," ujar BJ Habibie sambil tersenyum.

Habibie saat mengundang Indra Sjafri dan pengurus Bali United. (Habibie saat mengundang Indra Sjafri dan pengurus Bali United. (Foto: CNN Indonesia/Martinus Adinata)
Meski demikian, dia mengakui sepak bola menjadi enak ditonton lantaran permainan sepak bola yang dilakukan secara tim, bukan individu. Dia juga menilai kehebatan pemain macam Cristiano Ronaldo bukan apa-apa tanpa dilakukan secara kolektif.

judi bola terpecaya

"Main sepak bola itu bukan olahraga perorangan melainkan olahraga tim. Tak bisa kita bilang semua yang di lapangan itu hasil karyanya Ronaldo," ujar BJ Habibie waktu itu.
Dalam kesempatan itu, Habibie sempat berfilosofi soal kehidupan dengan sepak bola.

"Jiwa, roh, batin, hati nurani, dan akhlak, lima hal itu diberikan kepada manusia. Kelima hal itu harus dipelihara dengan baik karena merupakan pemberian dari Tuhan yang Maha Esa," ujar BJ Habibie.

"Olahraga adalah salah satu cara meningkatkan kualitas kelima hal tersebut."

Meski tak terlalu mengidolakan sepak bola, Habibie mengaku bangga salah satu cucunya pernah ikut seleksi di Timnas Indonesia U-19 dan sempat bergabung dengan Bali United. Habibie pernah mengundang pengurus Bali United dan Indra Sjafrie yang menjadi pelatih waktu itu di kediamannya di Kuningan pada April 2016.

BJ Habibie tutup usia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (11/9) pada pukul 18.05 WIB. Habibie meninggal dunia pada usia 83 tahun. (bac/sry)

Monday, August 26, 2019

4 Alasan Kenapa Barcelona Membuang Philippe Coutinho ke Bayern Munchen

Philippe Coutinho - Bayern Munchen
Philippe Coutinho resmi dipinjamkan ke klub Bundesliga, Bayern Munchen selama satu musim. The Bavarian juga mendapat opsi pembelian saat musim berakhir. 
Perkembangan karier Coutinho ini tidak mengejutkan. Sejak pertengahan musim lalu, dia sudah dinilai tidak lagi pantas membela Blaugrana. Coutinho tampak tersesat, bingung, tidak bisa memenuhi ekspektasi
Sebagai pemain yang menyandang status rekor transfer klub, perjalanan karier Philippe Coutinho di Camp Nou ini sedikit mengenaskan. Pemain yang diharapkan bisa jadi bintang baru ternyata hanya bisa bertahan selama satu setengah musim.
Dua atau tiga tahun lalu, Coutinho layak dianggap sebagai pemain terbaik Liverpool. Dia bisa membelah pertahanan lawan dengan gerakan cepat, juga mencetak gol dari luar kotak penalti. Potensi inilah yang menarik minat Barcelona.
Nahasnya, Barcelona tidak pernah menyaksikan langsung Coutinho yang sama. Coutinho di Barca tampak seperti pemain yang berbeda dengan Coutinho di Liverpool. Kualitasnya, performanya, kepercayaan dirinya jauh di bawah standar yang seharusnya.
Marcelo Bielsa, salah satu pelatih senior di dunia sepak bola, pernah mengemukakan teori tentang perbedaan kualitas pemain di klub baru. Barca tidak salah saat membeli Coutinho, hanya selalu ada kejutan di balik transfer pemain.
"Anda boleh jadi melihat 100 video, menginvestigasi cederanya, riwayatnya, kehidupan pribadinya, menganalisis statistiknya secara mendalam," kata Bielsa dikutip dari Sport.
"Anda boleh mengetahui segalanya tentang dia, tapi ada satu variabel yang tidak bisa dikontrol: bagaimana dia bakal beradaptasi dengan habitat baru? Mustahil mengetahui itu sebab baginya itu adalah realitas baru, hal baru untuk semua orang yang tidak bisa dipahami sebelum kehadirannya."
Ya, Coutinho gagal beradaptasi. Setidaknya ada 4 langkah kegagalan Coutinho di Barcelona, yang pada intinya tentang bagaimana kenyataan tidak bisa memenuhi harapan.
Pengalaman Coutinho di Barcelona mengonfirmasi teori Bielsa. Terlepas dari investasi, bagaimana cara pembelian tersebut, penolakan Liverpool, dan kehadirannya pada Januari 2018, Coutinho membuat publik Barca mengharapkan sesuatu.
Barcelona mendatangkan pesepak bola kelas dunia dengan talenta luar biasa yang telah menjadi bintang di tim Jurgen Klopp. Pelatih Jerman iru pernah mencegah kepergian Coutinho, tapi tanpa hasil.
Meminta loyalitas Coutinho adalah satu hal yang sulit. Melihat riwayatnya, mungkin dia hanya setia pada kostum timnas Brasil.

Awal Menjanjikan

Coutinho mendarat di Camp Nou pada Januari 2018. Dia tidak bisa bermain maksimal pada paruh kedua musim itu, tidak bisa bermain di Liga Champions. Namun, kondisi itu dianggap menguntungkan Coutinho yang masih beradaptasi.
Pada laga pertamanya, Coutinho menimbulkan kesan bahwa dia memang terlahir untuk barcelona. Dia tampak nyaman dengan ekosistem baru, mencari ruang di lapangan.
Dia mulai mencetak gol dan menciptakan assists, untuk menjadi pemain penting. Kala itu, Coutinho mencetak delapan gol di La Liga dan dua gol di Copa del Rey.
Namun, tiba-tiba segalanya berubah. Coutinho masih belum mampu mencapai level sebaik yang dia tunjukan di Liverpool. Mungkin, sejak hari pertama sebagai pemain Barcelona, Coutinho merasa bahwa ada sesuatu yang salah.

Perubahan Rencana

Barcelona merayu Coutinho dengan segala jarah. Sebelum transfer tersebut, pihak Barca berjanji bahwa Coutinho bakal bermain di posisi Andres iniesta. Coutinho diproyeksikan sebagai penerus Iniesta.
Namun, Valverde punya rencana berbeda. Dia lebih sering memainkan Coutinho di sisi sayap. Valverde beberapa kali menurunkan Coutinho di pos sayap kanan.
Bahkan kepergian Andres Iniesta tidak mengubah situasi ini. Coutinho tidak bisa kembali bermain di posisi terbaiknya. Dia merasa tersesat, hilang arah, dan kehilangan rasa percaya diri.

Karakter Lemah

Bagaimanapun, masalah Coutinho tidak semuanya berhubungan dengan tugas di lapangan. Ketika segalanya berjalan keliru, beban pemain termahal dalam sejarah klub membuat Coutinho semakin kesulitan.
Coutinho tentu tidak senang dengan perubahan posisi. Dia sudah mencoba berbicara empat mata dengan Ernesto Valverde. Sayangnya, Coutinho tidak berani memaksa pelatih untuk memberikan posisi yang dia inginkan.
Lionel Messi dan Luis Suarez masih terus mendukung Coutinho, tapi tidak semua pemain Barca melakukannya. Beberapa pemain meminta Coutinho bekerja lebih keras di pusat kebugaran.
Namun, Coutinho tidak bisa merespons dukungan-dukungan tersebut. Ketika kariernya berjalan buruk, dia tidak punya karakter untuk menarik dirinya sendiri dari lubang masalah.

About Me



Hai bro... nama gue danni, biasa dipanggil dann. Gua hobi banget main game, suka sama teknologi, suka olahraga, suka sama seni, suka banget nyobain makanan. Gua suka main game pubg. Sehari kalo lagi niat bisa aja gua maen sampe 10 jam sehari. Gua juga suka sama yg namamnya teknologi, suka sama perkembangan gadget yang semakin hari semakin canggih. Gua juga suka makan, ya kalo ga makan kan mati yekan. Gua main banyak game, dan gua juga suka olahraga. yuk ikutin keseruan gua di blog ini.